Pati, 11 Juli 2026 – Dalam episode perdana program Spektra Journey, sebuah inisiatif jurnalistik siswa MA Tarbiyatul Banin Winong Pati, tema “Madrasah ini Milik Masyarakat” diangkat sebagai sorotan utama. Wawancara mendalam dengan Bapak Faiz Al Mu’tabar, seorang tokoh masyarakat sekaligus putra dari K. H. Jabir Hasan, mantan pemimpin madrasah, mengungkap kembali nilai-nilai fundamental yang melandasi berdirinya institusi pendidikan ini. Berusia 52 tahun, Bapak Faiz, meskipun masih belia saat madrasah ini berdiri pada tahun 1980, menyimpan memori kolektif yang kaya tentang bagaimana madrasah ini tumbuh dan berinteraksi dengan lingkungannya.
Jejak Langkah di Emperan Madrasah: Memori Kolektif yang Tak Terlupakan
Bapak Faiz mengawali kisahnya dengan kenangan masa kecil yang lekat dengan madrasah. Ia bercerita tentang ibunya yang mengajar di madrasah, dan bagaimana ia sering digendong melewati “emper-emper” atau teras rumah warga yang saling menyambung. Gambaran ini melukiskan sebuah masa di mana madrasah dan pemukiman warga menyatu secara organik, tanpa sekat fisik yang tinggi. “Lewat emper-emper dulu kan nyambung emper-emper itu lewat tidak lewat jalan tapi emper gitu loh kan adem gitu ya,” kenangnya. Hal ini menunjukkan kedekatan emosional dan fisik antara madrasah dengan masyarakat sekitar, sebuah fondasi yang kuat dalam membangun rasa kepemilikan bersama.
Gotong Royong: Keringat dan Pasir Kali yang Membangun
Salah satu pilar utama yang membentuk karakter madrasah ini adalah semangat gotong royong. Bapak Faiz menceritakan tradisi “roan” atau kerja bakti yang melibatkan seluruh elemen madrasah, mulai dari siswa hingga guru. Ia masih ingat bagaimana siswa-siswi, termasuk dirinya, diajak mengambil pasir di Sungai Kebolampang menggunakan karung dan sepeda untuk pembangunan fisik madrasah. “Waktu itu sampai kita itu ngambil pasir di sungai, di sungai ini kebolampang itu,” ujarnya. Pembangunan masjid dan gedung madrasah dilakukan secara manual, tanpa bantuan mesin modern seperti molen, yang semakin memperkuat ikatan kebersamaan. Filosofi yang dipegang teguh adalah bahwa “anak-anak senang dilibatkan dalam kerja bakti,” menanamkan nilai partisipasi dan kepemilikan sejak dini. Tradisi ini, menurut Bapak Faiz, telah tertanam kuat bahwa “untuk hal-hal yang sifatnya itu umum ya untuk untuk masyarakat kayak masjid kayak madrasah itu memang sudah menjadi ini sekarang masyarakat itu memang merasa memiliki.”
Modal Sosial: Wakaf, Iuran, dan Jaminan Guru dari Masyarakat
Kepemilikan madrasah oleh masyarakat tidak hanya tercermin dari partisipasi tenaga, tetapi juga dari dukungan material. Bapak Faiz mengungkapkan bahwa tanah tempat berdirinya MA Tarbiyatul Banin saat ini merupakan wakaf dari Mbah Haji Jayusman, saudara dari Mbah Hasyim. Selain itu, jaminan kesejahteraan guru juga menjadi tanggung jawab kolektif masyarakat. “Dan itu untuk jaminan guru juga digilir itu masyarakat,” katanya, menunjukkan tradisi lama yang mengakar kuat dalam komunitas. Pendanaan pembangunan juga banyak berasal dari iuran sukarela guru, pengurus, dan masyarakat, yang didasari oleh semangat amal jariyah. “Banyak yang urunan ya waktu itu saya ingat itu. Jadi ya banyak yang dari guru, dari pengurus atau masyarakat itu yang urunan,” jelasnya. Ini menegaskan bahwa madrasah ini benar-benar dibangun dan dihidupi oleh swadaya masyarakat, bukan semata-mata mengandalkan bantuan eksternal.
Harmoni Pendidikan dan Lingkungan: Simbiosis Mutualisme yang Terjaga
Hubungan harmonis antara madrasah dan lingkungan sekitarnya juga menjadi poin penting dalam wawancara ini. Bapak Faiz menyoroti fenomena pedagang kaki lima di sekitar madrasah yang, alih-alih dianggap sebagai gangguan, justru dipandang sebagai bentuk simbiosis mutualisme. Madrasah menerapkan manajemen kedisiplinan yang tetap menghargai hak masyarakat untuk mencari rezeki, meskipun dengan batasan tertentu untuk menjaga ketertiban umum. “Jadi memang kita atur sedemikian rupa supaya masyarakat juga bisa ikut merasakan manfaatnya, tapi di sisi lain juga tidak mengganggu ketertiban umum,” paparnya. Keberadaan madrasah ini tidak pernah berkonflik dengan lingkungan, melainkan justru menjadi pusat interaksi sosial yang positif. “Dan itu yang membuat madrasah ini bisa bertahan sampai sekarang. Karena memang didukung oleh masyarakat,” tegasnya.
Warisan Nilai untuk Masa Depan: Memperkuat Ikatan Sosial
Perjalanan MA Tarbiyatul Banin dari masa ke masa menunjukkan pergeseran dalam sumber pendanaan, di mana bantuan pemerintah kini lebih banyak tersedia. Namun, Bapak Faiz menekankan bahwa partisipasi masyarakat tetap menjadi kekuatan utama. Ia mengilustrasikan dengan perbandingan menarik: “Kalau yang di luar itu dapat dua jadi satu. Kalau yang di sini satu jadi dua gitu,” mengacu pada efisiensi pembangunan yang didukung oleh swadaya masyarakat. Ini menunjukkan bahwa bantuan pemerintah dapat berlipat ganda hasilnya berkat kontribusi aktif dari masyarakat. Pentingnya menjaga ikatan emosional antara alumni, masyarakat, dan madrasah menjadi kunci keberlanjutan. “Modal sosial yang sangat berharga,” demikian Bapak Faiz menyebutnya, yang membedakan madrasah ini dari institusi pendidikan lain. Ia berharap nilai-nilai luhur para pendahulu, seperti gotong royong dan rasa kepemilikan, akan terus lestari dan menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk alumni, untuk menjaga dan mengembangkannya di era modern ini.
Referensi:
[1]: https://www.risetsosiologi.id/2026/07/mbahsahil.html "Riset Sosiologi. (2026, Juli 8). Pentingnya Perilaku Santun bagi Siswa, Guru, dan Lingkungan. Diakses dari"
[2]: "Transkrip Wawancara Spektra Journey dengan Faiz A. Mu’tabar, 27 Juni 2026."
