Artikel ini disusun berdasarkan sesi wawancara Program Spectra Journey Episode 3, Jumat 3 Juli 2026, bersama narasumber Ahmad Toha.
Oleh: Tim Spektra Journey
Dalam episode ketiga Spectra Journey yang tayang pada Jumat, 3 Juli 2026, program ini mengangkat tema "Madrasah Ini Milik Masyarakat" melalui wawancara mendalam dengan Ahmad Toha, seorang pegiat literasi dan tokoh masyarakat dari Desa Pekalongan. Wawancara ini tidak hanya mengupas sejarah dan perkembangan lembaga pendidikan di Desa Pekalongan, khususnya Yayasan Tarbiyatul Banin, tetapi juga menyoroti bagaimana madrasah ini tumbuh dan berkembang sebagai jantung komunitas, didorong oleh semangat gotong royong, nilai-nilai keagamaan, dan dampak sosial-ekonomi yang signifikan.
Akar Gotong Royong dan Spiritualitas: Fondasi Madrasah Milik Masyarakat
Sejarah madrasah di Desa Pekalongan adalah cerminan kuat dari partisipasi aktif dan semangat kolektif masyarakat. Ahmad Toha, yang lahir pada tahun 1964 dan menempuh pendidikan di madrasah setempat, menceritakan bahwa lembaga pendidikan ini telah ada jauh sebelum tahun 1950, berkat inisiatif dakwah Mbah Munjie dan dukungan finansial serta moral dari keluarga Mbah Haji Ismail yang dikenal dermawan [1].
baca juga artikel Mbah Sahil
Proses pembangunan Madrasah Aliyah Tarbiyatul Banin menjadi bukti nyata bagaimana masyarakat menganggap madrasah sebagai milik bersama. Tanah wakaf diperoleh dari Mbah Sokran (sebelah barat), Haji Jayusman bin Haji Syukur (sebelah timur), dan wakaf dari Ibu Samelah istri Bapak Syahruman. Sementara material bangunan seperti kayu dan bahan lainnya dikumpulkan melalui sumbangan warga dan upaya gigih tokoh-tokoh masyarakat. Tokoh-tokoh seperti Bapak Syahruman, Mbah Zaini Daikiman, Mbah Salih Azuri, Bapak Halimi, dan Bapak Ibrahim Umar Zakaria secara intensif berkeliling mencari donatur dan bahan material. Bahkan, muncul joke tentang kawan kita yang sebenarnya merujuk pada kesediaan masyarakat untuk menyumbangkan pohon atau material yang mereka miliki [2].
Menurut Ahmad Toha, semangat gotong royong yang luar biasa ini berakar kuat pada nilai-nilai agama. Ajaran Islam tentang berdakwah, bersedekah, berjuang, dan memajukan pendidikan menjadi motor penggerak utama. Inilah yang membedakan lembaga pendidikan agama di Desa Pekalongan, memungkinkannya bertahan dan berkembang di tengah tantangan, bahkan ketika lembaga lain di sekitarnya mengalami kesulitan atau terpaksa menghentikan operasionalnya [3].
Literasi sebagai Aset Desa: Kiprah Ahmad Toha dan Dampaknya
Keberadaan madrasah tidak hanya membentuk karakter religius, tetapi juga menumbuhkan tradisi intelektual dan literasi di Desa Pekalongan. Ahmad Toha sendiri adalah contoh nyata dari hasil pendidikan tersebut. Sebagai seorang penulis produktif, beliau telah menghasilkan lima buku, termasuk karya filosofis "Logika Seni Berpikir" dan buku sejarah lokal "Nguri-nguri Peninggalan Leluhur: Kiprah dan Harapan Tata Kelola Makam Desa" [4]. Minat menulisnya, yang tumbuh setelah lulus kuliah, dipengaruhi oleh kegemarannya berpikir dan bersinggungan dengan buku-buku filsafat, sosiologi, dan tasawuf sejak masa Madrasah Aliyah [5].
Kiprah Ahmad Toha sebagai pegiat literasi menunjukkan bahwa madrasah di Desa Pekalongan tidak hanya mencetak individu yang saleh, tetapi juga individu yang kritis dan produktif secara intelektual. Hal ini sejalan dengan visi madrasah sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan konteks lokal dan kebutuhan masyarakat.
Simbiosis Ekonomi dan Sosial: Madrasah sebagai Penggerak Kesejahteraan
Madrasah Tarbiyatul Banin telah menjadi lebih dari sekadar lembaga pendidikan; ia adalah katalisator bagi pertumbuhan ekonomi dan sosial di Desa Pekalongan. Dari aspek pendidikan, madrasah ini menjadi rujukan utama bagi masyarakat sekitar untuk menyekolahkan anak-anak mereka, terutama di era sebelum tahun 1980-an hingga 1990-an. Lokasi yang terjangkau dan biaya yang relatif murah menjadikan pendidikan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat [6].
Dampak ekonomi yang ditimbulkan juga sangat signifikan. Dengan adanya sistem boarding school dan santri mukim, kebutuhan sehari-hari para siswa menciptakan perputaran ekonomi yang besar. Kebutuhan akan makanan, pakaian, dan kebutuhan lainnya mendukung pedagang lokal dan bahkan memberikan dampak positif hingga pasar kecamatan. Ahmad Toha memperkirakan bahwa perputaran uang terkait pendidikan di Desa Pekalongan dapat mencapai ratusan juta rupiah per hari, mengingat jumlah siswa dari berbagai lembaga pendidikan (Al Falah, Hidayatun Negeri, Banin, Darma, LPK) yang mencapai lebih dari lima ribu orang [7]. Ini menunjukkan adanya simbiosis mutualisme antara lembaga pendidikan dan perekonomian lokal, di mana madrasah tidak hanya mencerdaskan tetapi juga menyejahterakan masyarakat.
Menjaga Esensi Pendidikan: Memanusiakan Manusia dan Kurikulum Cinta
Meskipun telah mencapai puncak kebesaran dan memberikan dampak positif yang luas, lembaga pendidikan di Desa Pekalongan tetap menghadapi tantangan untuk menjaga relevansi dan esensinya. Ahmad Toha menekankan pentingnya "sentuhan rohani" bagi seluruh elemen madrasah, mulai dari pengurus, guru, hingga staf. Ia menganalogikan bahwa kejernihan aliran air dimulai dari hulu; jika pimpinan dan pengelola memiliki niat yang jernih dan lurus dalam berkhidmah, maka dampaknya akan positif hingga ke tingkat siswa [8].
Lebih lanjut, Ahmad Toha mengingatkan bahwa di era digital dengan infrastruktur pendidikan yang semakin canggih, esensi pendidikan—yaitu "memanusiakan manusia"—tidak boleh terlupakan. Pendidikan harus memiliki dimensi vertikal (hubungan dengan Tuhan) dan horizontal (hubungan antarmanusia). Ia memperingatkan agar tidak terjebak pada formalitas dan target administratif semata, melainkan harus mengawal proses pembelajaran agar tidak kehilangan arah dan tetap berfokus pada pembentukan karakter manusia seutuhnya [9].
Literasi, dalam pandangan Ahmad Toha, adalah kunci untuk mencapai tujuan ini. Membaca tidak hanya terbatas pada teks, tetapi juga kemampuan membaca situasi, peluang, dan sejarah. Tradisi membaca dan berdiskusi harus terus ditumbuhkan sebagai bagian integral dari proses pendidikan. Beliau juga mengutip visi Menteri Agama Wahid Hasyim tentang "kurikulum cinta", di mana cinta dijadikan sumber energi dan kekuatan. Dengan cinta, hal yang berat menjadi ringan, dan yang sulit menjadi mudah, karena cinta membuat segalanya indah dan berkah [10].
Kisah Madrasah Tarbiyatul Banin di Desa Pekalongan, sebagaimana diungkapkan oleh Ahmad Toha, adalah narasi inspiratif tentang sebuah lembaga pendidikan yang benar-benar "milik masyarakat". Dari akar sejarah yang kuat dalam semangat keagamaan dan gotong royong, hingga dampaknya yang luas terhadap literasi, ekonomi, dan kesejahteraan sosial, madrasah ini menjadi model bagaimana pendidikan dapat menjadi jantung komunitas. Tantangan ke depan adalah untuk terus menjaga "sentuhan rohani", memanusiakan manusia, dan menumbuhkan "kurikulum cinta" agar madrasah ini tetap lestari, harmonis, dan terus menghasilkan generasi unggul yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Jurnalis: Alfin & Faiz
Penyelaras: Hilal
Foto tangkapan layar: Alfin
[2]: Transkrip Wawancara Spectra Journey Episode 3, Segmen Pembangunan Madrasah Aliyah.
[3]: Transkrip Wawancara Spectra Journey Episode 3, Segmen Faktor Pendorong Gotong Royong.
[4]: Transkrip Wawancara Spectra Journey Episode 3, Segmen Karya Tulis.
[5]: Transkrip Wawancara Spectra Journey Episode 3, Segmen Minat Menulis.
[6]: Transkrip Wawancara Spectra Journey Episode 3, Segmen Dampak Pendidikan.
[7]: Transkrip Wawancara Spectra Journey Episode 3, Segmen Dampak Ekonomi.
[8]: Transkrip Wawancara Spectra Journey Episode 3, Segmen Sentuhan Rohani.
[9]: Transkrip Wawancara Spectra Journey Episode 3, Segmen Esensi Pendidikan.
[10]: Transkrip Wawancara Spectra Journey Episode 3, Segmen Kurikulum Cinta dan Literasi.
