Penelitian OPSI (Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia) menjadi wadah bagi siswa-siswi berprestasi untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan dalam memecahkan masalah nyata. Dalam semangat ini, empat siswi dari SMA N 1 Jakenan—Sifa, Mila, Suci, dan Pravita—telah melangsungkan penelitian awal mengenai analisis nutrisi tanah untuk pembenihan padi organik. Penelitian ini bertujuan untuk memastikan kondisi tanah yang optimal guna mendukung pertumbuhan bibit padi yang sehat, sebuah faktor krusial dalam keberlanjutan pertanian organik. Laporan ini mengkonfirmasi partisipasi aktif mereka dalam kegiatan penelitian OPSI dan kontribusi mereka terhadap pemahaman nutrisi tanah di lingkungan lokal.
Penelitian ini melibatkan pengambilan dan analisis 10 titik sampel tanah dari area pembenihan padi organik pada tanggal 10 Juni 2026. Parameter yang diukur meliputi suhu tanah, kelembaban tanah, derajat keasaman (pH), konduktivitas listrik (EC), salinitas, serta kandungan nutrisi makro esensial seperti Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Data yang terkumpul kemudian dibandingkan dengan standar kesuburan tanah yang relevan dari literatur ilmiah terkini untuk mengevaluasi kesesuaian kondisi tanah pembenihan.
![]() |
| Penggunqan alat IoT untuk mwngetahui nutrisi tanah. |
Analisis data menunjukkan bahwa sebagian besar parameter tanah berada dalam kondisi optimal untuk pembenihan padi organik, sekaligus mengidentifikasi area spesifik yang memerlukan perhatian lebih lanjut. Keadaan ini berbeda dengan nutrisi tanah sebelum dilakukan tindakan pengolahan lahan pembenihan dengan bahan-bahan dan langkah-langkah pertanian organik.
Suhu dan Kelembaban Tanah
Suhu tanah rata-rata tercatat 29,14°C, dengan rentang antara 27,4°C hingga 31,3°C. Kondisi ini sangat ideal, berada dalam rentang optimal 25°C-35°C untuk pertumbuhan awal bibit padi [1]. Kelembaban tanah rata-rata 57,97% juga mendukung penyerapan nutrisi yang efisien.
Derajat Keasaman (pH) Tanah
Nilai pH tanah berkisar antara 6,10 hingga 7,24, dengan rata-rata 6,62. Mayoritas sampel berada dalam kisaran pH optimal 6,0-7,0, yang sangat penting untuk ketersediaan unsur hara, khususnya Fosfor [3]. Hanya satu titik yang sedikit basa (pH 7,24), namun secara keseluruhan kondisi pH sangat mendukung.
Salinitas dan Electrical Conductivity (EC)
Kadar EC pada seluruh titik sampel berkisar antara 212 μS/cm hingga 1843 μS/cm. Nilai tertinggi (1843 μS/cm) masih jauh di bawah ambang batas kritis 1900 μS/cm yang dapat menghambat pertumbuhan bibit padi [5]. Ini menunjukkan bahwa tanah pembenihan aman dari cekaman salinitas.
Kandungan Nutrisi Makro (N, P, K)
Terdapat variasi kandungan nutrisi makro di antara titik sampel:
- Nitrogen (N) Rata-rata 147,8 mg/kg. Titik terendah (40 mg/kg di Pembenihan timur) mengindikasikan perlunya penambahan pupuk organik kaya nitrogen.
- Fosfor (P): Rata-rata 54,7 mg/kg. Variasi signifikan ditemukan, dengan titik terendah 7 mg/kg (Pembenihan timur), menunjukkan pentingnya perhatian pada area ini untuk perkembangan akar bibit.
- Kalium (K) Rata-rata 188,6 mg/kg. Ketersediaan Kalium umumnya baik, kecuali di Pembenihan timur (49 mg/kg) yang relatif lebih rendah.
Secara khusus, lokasi "Pembenihan timur" menunjukkan defisiensi nutrisi makro yang mencolok (N: 40 mg/kg, P: 7 mg/kg, K: 49 mg/kg) dibandingkan lokasi lainnya, yang memerlukan manajemen nutrisi spesifik lokasi.
Penelitian yang dilakukan oleh Sifa, Mila, Suci, dan Pravita dari SMA N 1 Jakenan ini mengkonfirmasi bahwa kondisi fisikokimia tanah di area pembenihan padi organik secara umum optimal untuk pertumbuhan bibit. Suhu, pH, dan salinitas berada dalam rentang yang ideal. Namun, variasi spasial pada kandungan nutrisi makro, terutama di lokasi "Pembenihan timur", menunjukkan perlunya pendekatan pemupukan organik yang lebih terarah dan spesifik lokasi. Rekomendasi utama adalah penerapan manajemen nutrisi spesifik lokasi, dengan fokus pada penambahan pupuk organik dasar di area yang menunjukkan defisiensi nutrisi untuk memastikan pertumbuhan bibit yang seragam dan berkualitas tinggi.
Penelitian ini tidak hanya memberikan wawasan berharga mengenai kondisi nutrisi tanah untuk pembenihan padi organik, tetapi juga menjadi bukti nyata partisipasi aktif siswa SMA N 1 Jakenan dalam program OPSI, menunjukkan komitmen mereka terhadap penelitian ilmiah dan inovasi di bidang pertanian.
Referensi
[1] Sghaier, A. H., et al. (2022). The Effects of Temperature and Water on the Seed Germination of Rice. *Agronomy*. URL: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9654111/
[2] Goswami, S. (2020). Effect of Temperature on Different Growth Stages and Physiological Process of Rice crop. *ResearchGate*.
[3] Suryanti, T. A., Suswati, D., & Hazriani, R. (2024). Kajian Status Kesuburan Tanah Sawah untuk Tanaman Padi di Desa Tempurukan Kecamatan Muara Pawan. *Jurnal Sains Pertanian Equator*. URL: https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jspp/article/download/71399/75676600744
[4] FAO. (n.d.). Crop salt tolerance data. URL: https://www.fao.org/4/y4263e/y4263e0e.htm
[5] Zeng, L., & Shannon, M. C. (2000). Salinity Effects on Seedling Growth and Yield Components of Rice. *Crop Science*. URL: https://acsess.onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.2135/cropsci2000.404996x

