Menemukan Resiliensi dalam Semangkuk Dawet Bringin
Di dunia bisnis modern, persaingan seringkali berarti saling menjatuhkan. Namun di Bringin, berlaku prinsip “Ojo nganggo meruhi liyan”
Menemukan Resiliensi dalam Semangkuk Dawet Bringin
Oleh: Deli Ciamalinda, Erly Octavia Zena Putri, Hanifa Atiya Safinatun Najah, Ika Primatari, Meisya Rahmawati , Risma Wulandari, Ulfa Yuni Prihantini, Vrisca Rohma Safaroh Pagi di Desa Bringin, Kecamatan Juwana, Pati, tidak pernah dimulai dengan keheningan. Sebelum matahari benar-benar tegak, telinga kita akan disambut oleh harmoni yang khas: deru gerobak kayu yang melintasi aspal dan gemerincing sendok alumunium yang beradu dengan mangkuk keramik. Di sana, di RT 03 RW 01, aroma manis gula aren yang kental dan gurihnya santan segar mulai menguar, menandai dimulainya rutinitas para penjaga tradisi: kelompok pedagang dawet tradisional. Selama tiga bulan, sejak September hingga November 2025, kami masuk ke dalam denyut nadi kehidupan mereka. Bukan sekadar sebagai pembeli, melainkan sebagai penutur cerita yang ingin memahami: bagaimana minuman "kuno" ini bisa tetap tegak berdiri di tengah kepungan boba, thai tea, dan kopi susu kekinian yang menjamur hingga ke pelosok desa? Pengalam…