Pentingnya Perilaku Santun bagi Siswa, Guru, dan Lingkungan

Artikel ini disusun berdasarkan sesi wawancara Program Spectra Journey Episode 2, Kamis 2 Juli 2026, bersama narasumber Mbah Sahil (alumni ketiga)
Oleh: Tim Spektra Journey

Artikel ini disusun berdasarkan sesi wawancara Program Spectra Journey Episode 2, Kamis 2 Juli 2026, bersama narasumber Mbah Sahil (alumni ketiga MA Tarbiyatul Banin, Desa Pekalongan)

Dalam episode kedua Spectra Journey yang tayang pada Kamis, 2 Juli 2026, program ini mengangkat tema "Madrasah Ini Milik Masyarakat" melalui wawancara mendalam dengan salah satu tokoh masyarakat sekaligus alumni, Mbah Sahil. Wawancara ini tidak hanya menguak sejarah pembangunan Madrasah Aliyah Tarbiyatul Banin di Desa Pekalongan, tetapi juga mengingat nilai-nilai yang kuat dalam hubungan antara lembaga pendidikan dengan lingkungan sekitarnya.


Jejak Amal Jariyah: Membangun Jalan dan Madrasah dengan Gotong Royong

Mbah Sahil, yang lahir pada tahun 1967 dan merupakan alumni ketiga Madrasah Aliyah Tarbiyatul Banin (angkatan 1984-1985), membuka perbincangan dengan cerita tentang semangat gotong royong yang melekat pada masyarakat Desa Pekalongan. Ia bercerita tentang perjuangannya bersama rekan-rekan seperti Pak Suhari dan almarhum Pak Abdul Gani serta Pak Iksan dalam memperbaiki jalan akses menuju masjid desa. Pada saat itu, jalan tersebut masih terhalang rumpun bambu yang tidak teratur. Dengan inisiatif kelompok dan modal seadanya, mereka menghabiskan waktu berbulan-bulan membongkar tunggak bambu menggunakan alat manual seperti arit, cangkul, dan linggis. Hasilnya, jalan yang sebelumnya sempit kini menjadi lebar dan lurus, sebuah amal jariyah yang masih dirasakan manfaatnya hingga hari ini [1].

baca juga artikel Zawawi Hamim

Semangat swadaya serupa juga diterapkan dalam pembangunan fisik madrasah. Pembangunan MA Tarbiyatul Banin mengandalkan tanah wakaf dari masyarakat dan material kayu yang diperoleh melalui sumbangan pohon dari warga desa. Ketika gedung madrasah belum siap menampung siswa, pembelajaran sempat dilangsungkan dengan meminjam rumah warga di lingkungan sekitar. Bahkan dalam proses pembangunan, kebutuhan konsumsi bagi para pekerja sukarela dipenuhi secara bergilir oleh masyarakat setempat, mencerminkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab kolektif yang cukup tinggi [2].

Untuk menutupi biaya material seperti pasir, bata, dan semen, para pendiri madrasah melakukan pencarian donatur hingga ke daerah Todanan di Blora dan Rembang. Pada tahun 1994, donasi perorangan berkisar Rp. 10.000 hingga Rp50.000 dan , sebuah nominal yang pada masa itu memiliki nilai yang signifikan dalam pembangunan [3].

Model Pembelajaran Berbasis Komunitas

Dalam aspek pendidikan, MA Tarbiyatul Banin memiliki ciri khas yang unik pada eranya. Madrasah ini awalnya berdiri satu atap dengan MTs (Madrasah Tsanawiyah) dan baru memiliki gedung sendiri dalam rangka pengembangan dan layanan pendidikan Yayasan Tarbiyatul Banin. Jurusan yang pertama kali dibuka pada awal tahun 1980-an hanyalah jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) [4].

Kurikulum dan tenaga pengajar pada masa awal dipengaruhi oleh kebutuhan dan ketersediaan sumber daya lokal. Guru-guru yang mengajar sebagian besar adalah alumni MTs setempat yang telah lulus dan kembali mengabdikan diri untuk mendidik adik-adik kelasnya. Pendekatan ini menciptakan dinamika pembelajaran yang akrab, di mana guru dan siswa memiliki latar belakang sosial yang sama, memperkuat ikatan komunitas di dalam ruang kelas [5].

 

Pentingnya Perilaku Santun bagi Siswa, Guru, dan Lingkungan

Sebagai warga yang tinggal berjarak sekitar 200 meter dari lokasi madrasah, Mbah Sahil memberikan pandangan mendalam mengenai hubungan antara lembaga pendidikan dengan lingkungan sekitarnya. Ia menekankan bahwa sekolah tidak hanya berfungsi sebagai pusat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai institusi sosial yang harus mampu menjaga harmoni dengan masyarakat.

Mbah Sahil memberikan tiga masukan utama yang perlu diperhatikan oleh pihak madrasah untuk ke depannya. Pertama, siswa harus diajarkan untuk bersikap santun dan menjaga ketertiban. Hal ini tercermin dari nasihatnya agar siswa tidak memarkir kendaraan sembarangan di depan rumah warga, melainkan harus tertib demi keamanan dan kenyamanan bersama [6].

baca juga artikel Ahmad Toha

Kedua, Mbah Sahil menyoroti pentingnya kesantunan guru menjadi teladan terhadap murid. Ia mengingatkan bahwa meskipun disiplin diperlukan untuk membentuk karakter siswa, cara penyampaiannya harus tetap santun. Sebagai contoh, jika seorang siswa terlambat datang ke sekolah, guru tidak disarankan memberikan hukuman fisik atau memalukannya di depan pintu gerbang. Siswa sebaiknya diizinkan masuk kelas terlebih dahulu, dan pembinaannya dapat dilakukan pada waktu lain yang lebih tepat [7].

Ketiga, madrasah harus menjaga hubungan yang baik dengan lingkungan sekitar, termasuk dalam hal infrastruktur. Mbah Sahil pernah mengingatkan pihak sekolah untuk berhati-hati dalam membangun teras atau renovasi fisik agar tidak menyempitkan jalan umum, mengingat posisi sekolah yang berdekatan dengan pemukiman warga. Selain itu, pengelolaan sanitasi, seperti pembangunan Peresapan Air Limbah (PAL), juga menjadi isu krusial agar tidak menimbulkan masalah kesehatan atau lingkungan di masa depan [8].

Mbah Sahil juga menekankan pentingnya mengenang dan menghormati jasa para pendiri madrasah. Ia menyarankan agar nama-nama tokoh yang berjasa dalam mendirikan madrasah dicatat dan dibacakan dalam kegiatan keagamaan seperti tahlilan, sebagai bentuk penghormatan dan pengingat bagi generasi muda akan jasa para leluhur mereka [9].

Nilai-Nilai Sosiologis sebagai Landasan Hubungan Madrasah-Masyarakat

Berdasarkan narasi yang disampaikan Mbah Sahil, dapat diidentifikasi enam nilai utama yang menjadi fondasi keberlanjutan MA Tarbiyatul Banin dan dapat dijadikan pedoman untuk memperkuat hubungan madrasah dengan masyarakat di masa depan.

Pertama, nilai gotong royong. Proses pembangunan jalan masjid dan madrasah sepenuhnya mengandalkan swadaya masyarakat tanpa bantuan pihak ketiga. Para pendiri dan warga desa bekerja bersama dengan alat seadanya selama berbulan-bulan. Hal ini mencerminkan bahwa keberlanjutan lembaga pendidikan sangat bergantung pada partisipasi aktif dan rasa tanggung jawab kolektif warga sekitar.

Kedua, nilai solidaritas komunitas. Keterlibatan donatur dari luar Desa Pekalongan, seperti dari Todanan Blora dan Rembang, menunjukkan bahwa madrasah bukan hanya kebanggaan desa setempat, tetapi juga dianggap sebagai aset sosial yang lebih luas. Jaringan solidaritas lintas daerah ini menjadi bukti kekuatan ikatan sosial yang melampaui batas geografis.

Ketiga, nilai kepemilikan bersama[!]. Penggunaan tanah wakaf, sumbangan pohon kayu dari warga, konsumsi yang digilir oleh masyarakat, serta sistem pembelajaran yang meminjam rumah warga, semuanya menegaskan bahwa madrasah benar-benar milik masyarakat. Tidak ada pihak yang mendominasi atau merasa memiliki secara eksklusif, sehingga rasa tanggung jawab terhadap madrasah terdistribusi secara merata.

Keempat, nilai loyalitas dan keterikatan sosial. Pola rekrutmen guru yang mayoritas adalah alumni setempat menciptakan ikatan emosional dan sosial yang kuat antara guru dan murid. Alumni yang kembali mengajar tidak hanya membawa pengetahuan akademis, tetapi juga pemahaman mendalam tentang konteks sosial dan kebutuhan masyarakat lokal. Hal ini memastikan bahwa pendidikan tetap relevan dan berorientasi pada pemberdayaan komunitas.

Kelima, nilai norma kesantunan dan harmoni sosial. Kesantunan menjadi pesan utama dari masukan Mbah Sahil. Kesantunan bukan hanya soal tata krama individual, tetapi juga merupakan instrumen untuk menjaga hubungan yang saling mendukung antara madrasah, siswa, guru, dan lingkungan sekitar. Disiplin tanpa kesantunan akan merusak harmoni, sedangkan kesantunan tanpa disiplin tidak akan menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Kekeenam, nilai akuntabilitas sosial. Perhatian Mbah Sahil terhadap isu-isu praktis seperti pengelolaan sanitasi, batas pembangunan gedung, dan ketertiban parkir mencerminkan kesadaran bahwa madrasah sebagai institusi publik harus mampu mempertanggungjawabkan keberadaannya kepada lingkungan sekitarnya. Akuntabilitas sosial ini menjadi kunci agar madrasah tetap diterima dan didukung oleh masyarakat.

Enam nilai tersebut dapat menjadi landasan strategis bagi MA Tarbiyatul Banin dalam mewujudkan visi "Terdepan dalam Ilmu, Terpuji dalam Laku". Dengan menginternalisasikan nilai-nilai gotong royong, solidaritas, kepemilikan bersama, loyalitas, kesantunan, dan akuntabilitas sosial, madrasah ini tidak hanya akan mampu mencetak lulusan yang berkualitas secara akademis, tetapi juga menghasilkan manusia yang berkarakter mulia dan mampu memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.

Jurnalis: Alfin & Faiz
Penyelaras: Hilal 
Foto tangkapan layar: Alfin

Referensi:

[1]:  "Transkrip Wawancara Spectra Journey Episode 2, Segmen Cerita Jalan Masjid Desa Pekalongan."
[2]:  "Transkrip Wawancara Spectra Journey Episode 2, Segmen Proses Pembangunan Madrasah Aliyah."
[3]:  "Transkrip Wawancara Spectra Journey Episode 2, Segmen Pencarian Donatur."
[4]:  "Transkrip Wawancara Spectra Journey Episode 2, Segmen Model Pembelajaran dan Pengajaran."
[5]:  "Transkrip Wawancara Spectra Journey Episode 2, Segmen Tenaga Pengajar."
[6]:  "Transkrip Wawancara Spectra Journey Episode 2, Segmen Masukan mengenai Siswa."
[7]:  "Transkrip Wawancara Spectra Journey Episode 2, Segmen Masukan mengenai Guru."
[8]:  "Transkrip Wawancara Spectra Journey Episode 2, Segmen Hubungan Sekolah dengan Lingkungan."
[9]:  "Transkrip Wawancara Spectra Journey Episode 2, Segmen Penghormatan Jasa Pendiri."


Posting Komentar