Meneladani Jejak Profesor BANIN: Membangun Karakter Santri Melalui Perjalanan Hidup Prof. Dr. A. Zaenurrosyid, S.HI., M.A.

Inspirasi MATAMUDA: Membangun karakter santri MA Tarbiyatul Banin dengan meneladani kedisiplinan, manajemen waktu, dan keberkahan doa dari perjalanan
MA BANIN - Masa Ta'aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) merupakan momentum krusial bagi para siswa baru MA Tarbiyatul Banin Winong Pati untuk mengenali lingkungan pendidikan dan merumuskan cita-cita. Salah satu cara terbaik untuk membangun motivasi adalah dengan belajar dari tokoh sukses yang lahir dari rahim madrasah yang sama. Prof. Dr. A. Zaenurrosyid, S.HI., M.A., atau yang akrab disapa Prof. Rosyid, adalah bukti nyata bahwa dedikasi, kedisiplinan, dan karakter yang kuat dapat membawa seorang santri dari desa mencapai puncak akademik sebagai Guru Besar di Universitas Islam Sultan Agung (Unisula) Semarang.

Akar Karakter: Ketulusan Guru, Doa Orang Tua, dan Kebiasaan Fundamental

Perjalanan Prof. Rashid tidak dimulai dari kemewahan, melainkan dari nilai-nilai fundamental yang ditanamkan sejak dini di MI Tarbiyatul Banin. Beliau meyakini bahwa keberhasilan yang diraihnya saat ini tidak lepas dari ruh madrasah, yaitu loyalitas dan ketulusan para guru dalam mendidik. Bagi beliau, pendidikan dasar (elementary education) adalah masa pembentukan fundamental habit yang akan menentukan arah hidup seseorang di masa depan. Prof. Rashid secara spesifik menyoroti pentingnya kebiasaan yang terbentuk di jenjang MI, mengutip sabda Rasulullah SAW tentang anjuran shalat pada usia 7-10 tahun sebagai fondasi kedisiplinan spiritual yang krusial.
"Saya semakin meyakini bahwa fundamental habit anak itu dia dimulai dari rentang MI itu. Kenapa kemudian pilihan pendidikan Rasul sampai meneguhkan bahwa ajarkan sholat anak itu dari usia 7 maksimal 10? Itu kan berarti dari mulai MI itu kelas 1, 2, 3. Kalau sudah dilewat 10, maka kebiasaan dia akan mulai berat di fase awal. — Prof. Dr. A. Zaenurrosyid, S.H.I., M.A.
Beliau merasakan betul bagaimana ketulusan para guru MI mendampingi siswa saat bermain, yang menjadi memori jangka panjang dan membentuk modalitas di level lanjutan pendidikan. Prof. Rashid juga menekankan pentingnya doa dan tirakat orang tua sebagai sumber keberkahan:
"Saya selalu meyakini bahwa keberkahan yang kita peroleh itu juga di antaranya adalah ketulusan para guru, doa, dan tirakat para orang tua. Jadi, saya ingin mengatakan bahwa jangan pernah mendoakan anak-anak karena lelah mendoakan itu, kita tidak tahu kapan anak itu mendapatkan tetesannya. — Prof. Dr. A. Zaenurrosyid, S.H.I., M.A.

Selain faktor eksternal, Prof. Rosyid juga menanamkan disiplin diri yang kuat. Sejak kelas 2 MI, beliau sudah membiasakan diri untuk bangun pukul 02.00 atau 02.30 dini hari. Kebiasaan ini terus berlanjut hingga masa kuliah dan menjadi fondasi bagi produktivitasnya sebagai seorang akademisi. Beliau juga memiliki kebiasaan unik, yaitu mudah tidur di mana saja saat fisik sudah lelah, yang menunjukkan adaptabilitas dan kemampuannya untuk mengelola energi secara efektif.


Manajemen Waktu dan Keteguhan Hati (Grit): Prinsip "Tidak Ingin Waktu Terbuang Sia-sia"

Salah satu karakter menonjol dari Prof. Rosyid adalah prinsipnya untuk tidak membiarkan waktu terbuang sia-sia. Beliau mengungkapkan:
"Saya merasa sejak dulu itu tidak ingin waktu itu terbuang sia-sia." — Prof. Dr. A. Zaenurrosyid, S.H.I., M.A.
Prinsip ini terwujud dalam kebiasaan beliau yang luar biasa. Selama menempuh pendidikan di MTs, beliau tetap menyempatkan diri untuk membaca buku atau menghafal pelajaran di sela-sela membantu orang tuanya berdagang di pasar. Beliau tidak menjadikan kesibukan membantu keluarga sebagai alasan untuk tertinggal secara akademik.

"Sekalipun saya ke pasar, tapi saya selalu membawa buku. Jadi kalau kemudian teman-teman sudah mulai masuk ke kelas, saya itu masih membawa kertas dari hafalan karena saya harus ke pasar dulu... Jadi walaupun orang tua dagang, feeling saya tetap ingin saja tidak terbuang waktu itu kemudian untuk membaca." — Prof. Dr. A. Zaenurrosyid, S.H.I., M.A.

Ini adalah contoh nyata dari grit atau keteguhan hati, di mana kesulitan justru menjadi pemicu untuk lebih produktif. Kebiasaan ini terbawa hingga kuliah, di mana beliau tetap membaca di sela-sela kegiatan dan bahkan sebelum tidur.

Berikut adalah ringkasan perjalanan pendidikan dan nilai karakter yang dapat dipetik:

TK & MI
Tarbiyatul Banin Winong
Pembentukan kebiasaan dasar (fundamental habit), kedisiplinan spiritual (bangun malam otomatis), dampak ketulusan guru, dan doa orang tua.
MTs & MA
Tarbiyatul Banin / Matoli'ul FalahManajemen waktu yang ketat, membaca di sela kesibukan membantu orang tua, prinsip tidak membuang waktu sia-sia, adaptabilitas tidur.
Perguruan Tinggi
Unisula / PergerakanKeseimbangan antara aktivisme dan prestasi akademik (IPK standar 3.5 untuk beasiswa), penyaluran "energi berlebih" secara positif, karakter "kutu buku".
Puncak Karir
Guru Besar (Profesor)Konsistensi dalam belajar, pengabdian pada ilmu pengetahuan, adaptabilitas, dan menjaga kebiasaan baik sejak dini.

Keseimbangan Aktivisme dan Akademik: Menyalurkan "Energi Berlebih"

Saat memasuki dunia perkuliahan, Prof. Rosyid dikenal sebagai seorang aktivis pergerakan. Namun, beliau mematahkan stigma bahwa aktivis biasanya memiliki nilai akademik yang rendah. Beliau menetapkan standar tinggi bagi dirinya sendiri dengan target IPK minimal 3.5. Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan; beliau sadar bahwa prestasi akademik adalah kunci untuk mendapatkan beasiswa dan meringankan beban orang tua yang harus membiayai adik-adiknya.

Prof. Rashid memiliki pandangan menarik tentang aktivis:
"Bagi saya adalah orang yang kemudian masuk di ranah pergerakan, dia sebenarnya energinya berlebih. Kalau tidak, maka dia akan mencari kompensasi bahwa kegiatan di kampus itu nggak apa-apa. Toh juga, kita aktivis itu nilai enggak harus bagus dan lain sebagainya. Saya menstandarkan saat itu karena orang tua, kemudian juga adik-adik tiga yang semuanya juga kemudian mesti kuliah. Maka saya harus menilai itu standar 3,5." — Prof. Dr. A. Zaenurrosyid, S.H.I., M.A.
Beliau mengajarkan bahwa energi tersebut harus disalurkan secara positif, baik dalam organisasi maupun dalam penguasaan materi pelajaran. Karakter kutu buku yang beliau bangun saat di pondok pesantren menjadi modal besar dalam mengasah ketajaman berpikir dan analisisnya, menunjukkan bahwa aktivisme dan akademik dapat berjalan seimbang dan saling mendukung.

Nilai Historis dan Spiritualitas Madrasah: Inspirasi dari Matoli'ul Falah

Prof. Rosyid juga mengisahkan bagaimana madrasah Matoli'ul Falah, tempat beliau menimba ilmu di jenjang selanjutnya, memiliki nilai historis dan spiritualitas yang tinggi. Madrasah ini "keramatnya besar" karena merupakan hasil perjuangan para pendahulu yang gigih mempertahankan pendidikan Islam dari upaya penutupan oleh penjajah Belanda. Kisah ini menjadi pengingat bagi para santri bahwa mereka adalah bagian dari warisan perjuangan yang besar, dan bahwa pendidikan di madrasah bukan hanya tentang ilmu, tetapi juga tentang menjaga dan meneruskan nilai-nilai luhur.

Pesan untuk Santri MA Tarbiyatul Banin

Bagi para siswa MA Tarbiyatul Banin yang baru memulai perjalanan di madrasah ini, kisah Prof. Rashid adalah cermin bahwa madrasah bukan sekadar tempat belajar, tetapi tempat persemaian karakter dan nilai-nilai luhur. Keberhasilan tidak datang secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan:
  1. Kedisiplinan spiritual yang kuat: bangun malam, menjaga sholat, dan tidak pernah lelah mendoakan. Ini adalah fondasi yang akan membentuk mental dan spiritual kalian.
  2. Ketekunan belajar dan manajemen waktu: Manfaatkan setiap waktu luang untuk membaca dan belajar. Ingat prinsip Prof. Rosyid, "tidak ingin waktu terbuang sia-sia." Bahkan di tengah kesibukan, selalu ada celah untuk menimba ilmu.
  3. Bakti kepada orang tua dan hormat kepada guru: Carilah keberkahan dari doa orang tua dan ketulusan para guru. Mereka adalah pilar utama dalam perjalanan pendidikan kalian.
  4. Keseimbangan hidup dan penyaluran energi positif: Jika kalian memiliki "energi berlebih" untuk berorganisasi atau beraktivitas, salurkanlah secara positif. Buktikan bahwa aktivis juga bisa berprestasi tinggi secara akademik.
  5. Penghargaan terhadap sejarah dan nilai madrasah: Kalian adalah bagian dari warisan perjuangan yang besar. Jadikan sejarah madrasah ini sebagai inspirasi untuk terus berprestasi dan menjaga nilai-nilai luhur.
Jadilah santri yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki ketangguhan mental dan kedalaman spiritual, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Prof. Dr. A. Zaenurrosyid. Selamat berproses di MATAMUDA, selamat menjadi bagian dari sejarah besar MA Tarbiyatul Banin Winong Pati. Raihlah cita-cita setinggi mungkin dengan karakter santri yang kokoh!


Jurnalis: Tim SPEKTRA JOURNEY

Posting Komentar