Bermula dari Sebuah Pohon Tumbang dan Kejelian Warga
Kisah penemuan ini bermula dua tahun silam, ketika tumbangnya pohon tua di pojok timur Makam Ki Ageng Rante Kencono Wulung —leluhur Desa Pekalongan. "Dua tahun yang lalu, roboh, akarnya terguling, ditebang, akarnya kembali. Sempat bertunas lagi," kenang Lek Ajib, salah seorang warga yang terlibat dalam peristiwa tersebut [1]. Namun, baru pada hari Jumat kemarin saat ziarah kubur, kejelian Pak Inggi, Kepala Desa Pekalongan, menangkap anomali di tanah. "Lemahe ono sing ngrowong, awale ono sing mencongol. Malem Jumat kemarin," ujarnya, menggambarkan tanah yang berlubang dan menonjol tak biasa [1].
Setelah salat Jumat, saat berziarah di Makam Toro, Pak Inggi kembali melihat keanehan. "Lho iki kok koyok hebel. Tapi kok ora hebel, pikirane melihat disini. Terlihat berserakan," tuturnya, mengacu pada batu-batu berserakan yang awalnya ia kira hebel, namun ternyata memiliki tekstur dan bentuk yang berbeda [1].
Ekskavasi Awal dan Karakteristik Makam Kuno
| Tampak warga sedang rekonstruksi tipologi bentuk yang sesuai dengan temuan awal di kedalaman satu lutut orang dewasa (Faisal/2026) |
Jirat makam kuno ini terbuat dari batu karang dan ditemukan dalam posisi tidak beraturan. Namun, yang menarik adalah kemiripan struktur batu makam ini dengan makam Bupati Pati Kulon periode 1743-1770, Tumenggung Tjitrodiwirjo, yang berada di Metaraman Margorejo [1] [2]. Sebuah motif hewan laut juga masih terlihat jelas di bagian jirat makam, menambah keunikan temuan ini [1]. Berdasarkan identifikasi awal menggunakan Google Lens, Mas Alvin menginformasi batu nisan di makam kuno Desa Pekalongan ini berasal dari lini masa tahun 1400 hingga 1500 Masehi [1].
| Tampak hewan laut yang masih terlihat jelas di bagian jirat makam kuno (Faisal/2026) |
Jaringan Sejarah dan Spiritualitas yang Terhubung
Penemuan makam ini tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan jaringan sejarah dan spiritualitas yang lebih luas. Pak Inggi menyebutkan adanya versi Kudus yang mengaitkan Mbah Rante dengan Kencono Aji dan KH Sharif, yang kemudian berlanjut ke Mbah Lambu. "Itu kalo urut-urutane ada, itu dengan Sunan Giri," ungkapnya, menunjukkan kemungkinan keterkaitan dengan salah satu Wali Songo [1]. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dalam kitab Mbah Jauhar, muncul nama Syekh Muhyi yang memiliki hubungan dengan Sunan Giri, dalam urutan Tarekat Syattariyah ke-11 [1].
Selain itu, penemuan ini juga dikaitkan dengan keberadaan 10 manuskrip Islam dan praktik pengobatan Islam Jawa yang sedang diidentifikasi di Desa Pekalongan. Mas Alvin, sebagai bagian dari tim dokumentasi manuskrip, menjelaskan bahwa naskah-naskah kuno ini, yang diketuai oleh Mas Jauhar Hilal (cucu penulis manuskrip desa), menambah dimensi penting pada penemuan arkeologis ini [1]. Mbah Sahil juga mengingat bahwa dahulu ada tiga atau lima makam yang memiliki cungkup (bangunan menyerupai rumah di atas jirat), menandakan bahwa tokoh yang dimakamkan adalah sosok penting pada masanya [1].
Memori Kolektif dan Pelestarian Jejak Peradaban
Penemuan makam kuno ini menjadi hal penting bagi Desa Pekalongan untuk merefleksikan kembali memori kolektif mereka. Kisah-kisah lisan, seperti burung bangau yang sering membawa bandeng di area makam, pohon ringin yang terlihat dari Gunung Muria, hingga kereta kencono [3] kini menemukan konteks historis yang lebih mendalam [1]. Terlebih desa Pekalongan juga pernah menjadi desa penting di era kolonial karena pada tahun 1929 menjadi dasar hak-hak atas tanah di pedesaan Jawa [4]. Upaya pelestarian dan penelitian lebih lanjut diharapkan dapat mengungkap lebih banyak lagi tentang peradaban yang pernah berkembang di wilayah ini.
Penemuan ini menegaskan bahwa sejarah tidak selalu terukir di prasasti megah, melainkan juga tersimpan dalam setiap jengkal tanah, di balik akar pohon yang tumbang, dan dalam ingatan kolektif masyarakat. Desa Pekalongan kini memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan menelusuri lebih jauh interaksi jejak-jejak peradaban ini, agar narasi masa lalu dapat terus menginspirasi generasi mendatang. (Joko Lelono)
Referensi
[1]: "Catatan Lapangan Makam Kuno Desa Pekalongan Winong Pati - 19 Juli 2026. (Dokumen Internal)."
[2]: https://harianmuria.com/pati/jejak-kepemimpinan-tjitrodiwirjo-bupati-pati-kulon-periode-1743-1770/ "Harian Muria. (2026, 23 Juni). Jejak Kepemimpinan Tjitrodiwirjo, Bupati Pati Kulon Periode 1743-1770.
[3]: Djauhar, Syahruman. (2007). Riwayat Desa Pekalongan Kecamatan Winong Kabupaten Pati. Pekalongan: Dokumen Internal Desa Pekalongan. Dalam https://id.scribd.com/document/322716546/Sejarah-Desa-Pekalongan-Winong-Pati
4]: Burger, D. H. (1929). Economische Beschrijvingen. Rapport over de desa Pekalongan in 1868 en 1928. Weltevreden: G. Kolff & Co. (Diterbitkan dalam seri publikasi Koloniale Studiën oleh Vereeniging voor Studie van Koloniaal Maatschappelijke Vraagstukken), dalam Katalog Perpustakaan Nasional Australia (NLA) https://catalogue.nla.gov.au/catalog/230383 (Referensi untuk versi terjemahan bahasa Indonesia tahun 1962), & Wageningen University & Research (eDepot): https://edepot.wur.nl/242428 (Metadata monograf asli dalam bahasa Belanda).
DOWNLOAD Berkas Catatan Lapangan
DOWNLOAD Berkas Foto