KH. Zawawi Hamim: Menelusuri Jejak Sejarah dan Nilai Perjuangan Yayasan Tarbiyatul Banin

KH. Zawawi Hamim adalah salah satu saksi hidup dan narator penting dalam perjalanan Yayasan Tarbiyatul Banin. Melalui kisah-kisah yang beliau


Artikel ini disusun berdasarkan sesi wawancara Program Spektra Journey Episode 2, Kamis 2 Juli 2026, bersama narasumber KH. Zawawi Hamim, cucu pendiri Yayasan Tarbiyatul Banin.

KH. Zawawi Hamim, sebagai cucu langsung dari KH. Ismail bin Zainal Abidin, pendiri Yayasan Tarbiyatul Banin, memiliki posisi unik sebagai saksi mata dan narator utama sejarah yayasan. Ikatan emosional dan pemahaman mendalam beliau tentang nilai-nilai luhur yang ditanamkan sejak awal pendirian menjadi jembatan penting bagi generasi sekarang untuk memahami perjuangan para pendahulu. Wawancara dengan beliau tidak hanya menyingkap perjalanan hidupnya, tetapi juga memberikan kilas balik berharga mengenai fondasi dan perkembangan yayasan yang kini menjadi pilar pendidikan dan kemasyarakatan, berkat kontribusi kolektif dari keluarga besar dan masyarakat.

Latar Belakang dan Pendidikan

KH. Zawawi Hamim lahir di Pati pada tanggal 10 Januari 1954. Beliau lahir 25 tahun setelah Yayasan Tarbiyatul Banin berdiri pada tahun 1930 [1]. Riwayat pendidikannya dimulai dari MI Banin (lulus 1963), MTS Banin (lulus 1969), dan melanjutkan di SLTA Jogja (lulus 1972) [1]. Sejak kecil, KH. Zawawi diasuh langsung oleh kakeknya, Mbah Ismail, dan istrinya, Mbah Hajah Azizah [1]. Pengasuhan langsung ini membentuk karakter dan memberikan pemahaman yang kuat tentang nilai-nilai perjuangan yang diwarisi.

Peran dalam Yayasan dan Masyarakat

Dedikasi KH. Zawawi Hamim terhadap Yayasan Tarbiyatul Banin terwujud melalui berbagai peran yang diembannya, mencerminkan kontinuitas kepemimpinan dan pengabdian dari generasi ke generasi. Beliau pernah mengabdi sebagai guru MTS dari tahun 1973 hingga 1980. Selain itu, beliau juga aktif dalam kepengurusan yayasan, menjabat sebagai bendahara yayasan sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an, dan kemudian memegang amanah sebagai ketua Yayasan Tarbiyatul Banin dari tahun 2000 hingga sekitar tahun 2022 [1]. Estafet kepemimpinan ini kemudian dilanjutkan oleh tokoh-tokoh lain seperti KH. Adib al Arif dan saat ini oleh KH. Abdul Kafi, menunjukkan semangat kebersamaan dalam mengelola yayasan [1].

Di luar yayasan, KH. Zawawi Hamim juga mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil di Pengadilan Agama Kabupaten Pati sejak tahun 1981 [1]. Fokus beliau dalam pengabdian di yayasan hingga saat ini adalah di bidang kebendaharaan dan aset yayasan, menunjukkan komitmennya dalam menjaga keberlangsungan dan kemandirian lembaga [1].

Kenangan Bersama Mbah Ismail dan Mbah Azizah

KH. Zawawi Hamim memiliki banyak kenangan berharga bersama kakek dan neneknya. Beliau menggambarkan Mbah Ismail sebagai sosok yang penyabar dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Sementara itu, Mbah Azizah digambarkan memiliki watak keras yang positif dalam mendidik anak cucu dan masyarakat. Kekerasan Mbah Azizah ini dipandang sebagai bentuk gemblengan yang efektif dalam membentuk karakter [1].

Pengasuhan langsung oleh Mbah Ismail dan Mbah Azizah sejak kecil hingga beliau menikah pada tahun 1975, memberikan banyak pengalaman dan pelajaran berharga yang turut membentuk pemahaman mendalam beliau. Pengalaman personal ini menjadikan KH. Zawawi Hamim sebagai salah satu sumber informasi yang sangat sahih mengenai sejarah dan nilai-nilai Yayasan Tarbiyatul Banin, melengkapi narasi kolektif dari keluarga besar lainnya [1].

Sejarah Awal Yayasan Tarbiyatul Banin

Yayasan Tarbiyatul Banin didirikan pada tahun 1930, berawal dari visi dan inisiatif Mbah Ismail yang didukung oleh dorongan dari Kyai Mahfud dari Kajen. Setelah bermukim di Mekkah selama tujuh tahun, Mbah Ismail kembali ke Pati dengan semangat untuk mengembangkan pendidikan agama. Bersama Kyai Mahfud, yang memiliki visi serupa untuk mengembangkan pondok pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Mbah Ismail berinisiatif mendirikan madrasah di Pekalongan, sebuah daerah yang pada masa itu masih minim pendidikan agama formal [1].

Madrasah ini awalnya merupakan cabang dari Matholi'ul Falah Kajen, dengan pengasuh dan guru-guru yang berasal dari Kajen. Sistem pembelajarannya murni salaf. Mbah Ismail, dengan dukungan dari keluarga dan masyarakat, juga turut menanggung berbagai kebutuhan logistik, termasuk kebutuhan makan dan uang saku para pengajar, menunjukkan komitmen kolektif dalam mendukung operasional madrasah [1].

Pada masa penjajahan Belanda, madrasah-madrasah yang merupakan cabang Matholi'ul Falah, termasuk di Banin, ditutup karena dikhawatirkan menjadi sarang pemberontakan. Setelah masa pendudukan Jepang, semangat untuk menghidupkan kembali madrasah muncul dari Mbah Ismail bersama Kyai Munji, yang merupakan penerus guru-guru dari Kajen, serta dukungan dari berbagai pihak. Upaya kolektif ini termasuk menemui Bupati Jepang di Pati untuk mendapatkan izin operasional. Akhirnya, madrasah diizinkan beroperasi kembali dengan syarat kemandirian dan tidak lagi tersentralisasi dengan Matholi'ul Falah, yang kemudian mengarah pada perubahan nama menjadi Tarbiyatul Banin [1].

Perkembangan dan Nilai-nilai Yayasan

Pada awalnya, bangunan madrasah hanya terdiri dari tiga ruang kelas yang terbuat dari kayu. Karena keterbatasan ini, proses belajar mengajar seringkali memanfaatkan rumah-rumah masyarakat sekitar [1]. Meskipun demikian, Yayasan Tarbiyatul Banin terus berkembang. Pada era 1960-an, kegiatan seperti Agustusan, upacara, dan baris-berbaris sudah berjalan dengan baik, bahkan memiliki drum band besar yang lengkap [1].

Perubahan sistem pendidikan dari salaf murni menjadi kombinasi dengan pelajaran umum mulai terjadi pada masa kepemimpinan Pak Asrori sebagai kepala sekolah MTs. Pak Asrori, yang merupakan lulusan IAIN Jogja, melihat perlunya pengembangan dan perubahan di sekolah sesuai dengan perkembangan zaman [1].

KH. Zawawi Hamim juga menunjukkan kerendahan hati dalam setiap ceritanya, seringkali menggunakan frasa seperti "saya ndak tahu ya" atau "saya tidak begitu hafal karena itu itu sudah generasi dulu ya". Sikap ini justru menambah kredibilitas ceritanya karena beliau tidak mengklaim tahu segalanya, melainkan menyampaikan apa adanya berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya [1]. 

KH. Zawawi Hamim adalah salah satu saksi hidup dan narator penting dalam perjalanan Yayasan Tarbiyatul Banin. Melalui kisah-kisah yang beliau sampaikan, kita dapat memahami betapa besar perjuangan para pendiri dan bagaimana nilai-nilai seperti kesabaran, ketegasan dalam mendidik, gotong royong, serta kemandirian telah membentuk yayasan ini menjadi lembaga pendidikan yang kokoh. Peran beliau, bersama dengan kontribusi anggota keluarga besar  lainnya dan masyarakat, menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk terus mengembangkan dan menjaga warisan luhur ini dengan semangat kebersamaan.



Jurnalis: Alfin & Faiz
Penyelaras: Hilal 
Foto tangkapan layar: Alfin

Referensi

[1]: Transkrip Wawancara Spektra Journey Episode 2 dengan KH. Zawawi Hamim, 5 Juli 2026.

Posting Komentar